Ingin Rumah di Surga ? (Bag.II)

Teduh.Or.Id – Amalan berikutnya yang berpahala rumah di surga adalah:

Syukur dan Mengucap Istirja’ Saat Tertimpa Mushibah

عن أبي موسى الأشعري أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال إذا مات ولد العبد قال الله لملائكته قبضتم ولد عبدي فيقولن نعم فيقول قبضتم ثمرة فؤاده فيقولون نعم فيقول ماذا قال عبدي فيقولن حمدك واستجرع فيقول الله إبنوا لعبدي بيتا في الجنة وسموه بيت الحمد

Dari Abu Musa al-Asy’ary Radliyallahu ‘Anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda: “Apabila anak seorang hamba (yang beriman) mati, Allah berfirman kepada para Malaikat-Nya : “Kalian telah menggenggam anak hambaku” maka mereka pun menjawab : “Ia”, dan Allah berfirman : “Kalian telah menggenggam buah hatinya”, Maka mereka menjawab : “Ia”, dan Allah berfirman : “Apakah yang dikatakan hambaku ini?” mereka menjawab : “Ia memujimu dan ber-Istirja'”, Maka Allah berfirman : “Bangunkanlah untuk hambaku rumah disurga dan namakan ia dengan rumah al-Hamd.”

Al-Mubarak Fuuri (Wafat 1353.H)Rahimahullah dalam Tuhfatul Ahwadzy (3/456) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ber-Istirja’ dalam hadits ini adalah mengucapkan kalimat Istirja’ yaitu “Innaa Lillahi Wainna Ilaihi Raji’un.”

al-‘Allamah Abdul Qadir al-Arna’uth dalam Ta’liqnya (Catatan) atas kitab al-Jami’ul Ushul (6/433) beliau berkata : “Hadits ini dikeluarkan oleh Imam at-Tirmidzi No.1021 dan diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad, Ibnu Hibban dalam Shahihnya. Dalam rantai periwayatannya (Sanad) terdapat seorang periwayat berinisial Abu Sinan yang bernama Isa bin Sinan al-Qasmily. Ia dinilai Layyinul Hadits oleh al-Hafizh Ibnu Hajar sebagaimana di dalam at-Taqrib. Namun riwayat ini memiliki Syawahid yang dapat mengangkatnya, dan Imam at-Tirmidzi berkata: Hadits ini Hasan lagi Gharib,  dan Ibnu ‘Allan Rahimahullah dalam kitab al-Futuhatur Rabbaniyyah ‘Alal Adzkarin Nawawiyyah (3/296) berkata: Al-Hafizh – yakni Ibnu Hajar – berkata : Hadits ini Hasan.”

Hadits ini juga telah diteliti oleh al-‘Allamah Nashiruddin al-Albany Rahimahullah dalam kitabnya as-Silsilah al-Ahaditsush Shahihah (3/398) dan diakhir paparannya beliau katakan :

فالحديث بمجموع طرقه حسن على أقل الأحوال

  “Maka Hadits ini dengan seluruh jalur-jalurnya adalah Hasan paling tidak.”

Dengan demikian semoga kita selalu diberi kesabaran dan kesyukuran oleh Allah di dalam segala situasi dan keadaan, sehingga kelak kita dapat memiliki rumah di surga. Amiin.

Membaca Dzikir Masuk Pasar

Amalan lainnya yang juga berpahala rumah di surga adalah membaca Dzikir seperti yang tercantum dalam hadits berikut ini, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

من دخل السوق فقال لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد يحيي ويميت وهو حي لا يموت بيده الخير وهو على كل شيء قدير كتب الله له ألف ألف حسنة ومحا عنه ألف ألف سيئة ورفع له ألف ألف درجة وبنى له بيتا في الجنة

 “Siapa saja yang masuk pasar lalu berkata (membaca) : “Laa Ilaaha Illallahu wahdahu laa syariikalahu lahul mulk wa lahul hamd yuhyi wayumit wa huwa hayyun la yamut biyadihil khair wahuwa ‘ala kulli syai’in qadir.” Allah tuliskan untuknya beribu-ribu kebaikan dan menghapus darinya beribu-ribu keburukan dan Allah mengangkat derajatnya beribu-ribu derajat, dan Allah membangunkan untuknya rumah di dalam surga.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam at-Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, Imam Ahmad dan lain-lainnya. Hadits ini diperselisihkan keshahihannya di sisi Ulama dan telah ditulis sebuah riset ilmiyah khusus tentang Takhrijnya oleh Syaikh ‘Adil bin Abdillah as-Su’aidan dengan judul :

بذل الجهد في تحقيق حديثي السوق والزهد

Badzlul Juhdi Fii Tahqiq Haditsai Suuq Waz Zuhd.

Buah tangan ini kemudian direkomendasikan oleh al-‘Allamah Muqbil bin Hady al-Wad’iy Rahimahullah. Dan beliau menyepakati atas lemahnya (baca: Dla’ifnya) hadits ini di dalam mukadimah beliau atas kitab tersebut.

Sementara Al-‘Allamah Nashiruddin al-Albany Rahimahullah menilai hadits ini Hasan di dalam Shahihul Jami’ish Shaghir dan beliau telah paparkan beberapa alasan beliau menghasankan hadits ini dalam as-Silsilah as-Shahihah (7/381-390) sebagai komentar atas kitab Badzlul Juhdi Fii Tahqiq Haditsai Suuq Waz Zuhd di atas.

Hadits ini juga dinilai Hasan oleh al-‘Allamah Abdul Qadir al-Arna’uth dalam Ta’liq beliau atas kitab al-Jami’ul Ushul (4/394).

Senada dengan pendapat yang menghukuminya Hasan, Syaikh Salim bin ‘Id al-Hilaly juga menilai demikian, dan untuk memperkuat pendapatnya, beliau menulis sebuah kitab khusus membahas hadits ini dengan judul :

القول الموثوق في تصحيح حديث السوق

Al-Qaulul Mautsuq Fii Tash-hih Haditsis Suuq.

Walau pun demikian, tulisan ini tetap tidak selamat dari kritik atas penilaiannya terhadap hadits tersebut dan dianggap tidak tepat menghukuminya Hasan atau Shahih, sebagaimana kritikan tersebut ditulis oleh al-Fadlil Abdurrahman bin Umar al-Faqih al-Ghamidy sebagaimana yang beliau telah jelaskan di dalam ahlalhdeeth.com. atau bisa ditelaah  di sini.

Sedangkan penulis sendiri belum memiliki kemampuan untuk menilai manakah yang kuat dan dekat kepada kebenaran atas hukum untuk hadits ini, Namun sebatas yang penulis pahami bahwa hadits ini lebih dekat seperti yang disebutkan oleh al-‘Allamah Muqbil bin Hadiy al-Wad’iy dan al-Fadlil Abdurrahman bin Umar al-Faqih al-Ghamidiy. Wallahu ‘A’lam.

Perbedaan pendapat tentang hukum Hadits ini menjadi penentu atas boleh atau tidaknya meyakini keutamaan dan pahala yang disebutkan di dalamnya, jika dikatakan Shahih maka pahala mendapatkan rumah di surga tentu bisa diraih hanya dengan membaca dzikir tersebut ketika masuk ke pasar, namun jika sebaliknya – atas pendapat yang tidak membolehkan beramal dengan hadits lemah walau pun dalam perkara Fadlilah satu amalan – maka hadits ini tentunya tidak kuat dan tidak layak untuk dijadikan sebagai dalil.

Bersambung: Rumah di Surga (Bag.III)