Ijma’ Ulama Atas Wajibnya Metode Rukyat

Ijma’ Ulama Atas Wajibnya Metode Rukyat

Menyaksikan bulan tanggal 1 Ramadlan menjadi syarat wajib berpuasa , siapa pun yang menyaksikan bulan ramadlan dalam keadaan sehat dan sedang tidak musafir, maka dia wajib berpuasa, Allah berfirman:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Maka siapa saja dari kalian menyaksikan bulan maka wajiblah mempuasakannya.” [QS: Al-Baqarah : 185 ]

Ayat ini sebagai dalil utama atas hal itu, Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata:

هذا إيجاب حَتْمٍ على من شهد استهلال الشهر -أي كان مقيما في البلد حين دخل شهر رمضان، وهو صحيح في بدنه -أن يصوم لا محالة

“Ayat ini adalah kewajiban yang harus atas siapa saja yang menyaksikan hilal bulan (ramadlan) – yakni  bagi yang berstatus Muqim di suatu negeri ketika bulan ramadlan tiba, dan ia dalam keadaan sehat jasmani – agar dia berpuasa, tidak boleh tidak.”

Dari itu mengetahui tanggal 1 bulan ramadlan menjadi sangat penting, dan berhak mendapatkan perhatian serius serta kewaspadaan yang tinggi, sebab Allah telah menjadikannya sebagai bagian dari salah satu Syi’ar Islam yang Agung,  yaitu Shaum.

Adapun metode untuk menentukan masuknya bulan ramadlan adalah dengan metode yang telah direkomedasikan sendiri oleh sang pembawa risalah – Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – yaitu metode ar-Ru’yat (melihat dengan mata biasa).

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين

“Berpuasalah kalian karena melihatnya dan berbukalah (idul fithri) kalian karena melihatnya, maka jika dihalangi atas kalian (melihatnya) maka sempurnakanlah jumlah hari bulan Sya’ban sampai tiga puluh”. [HR: Bukhari dan Muslim)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda:

 لا تصوموا حتى تروا الهلال ولا تفطروا حتى تروه فإن غم عليكم فاقدروا له

“Jangan kalian berpuasa sampai melihat hilal, dan jangan kalian beridul fitri sampai kalian melihatnya, dan jika kalian terhalangi maka tentukanlah untuk mendapatkannya”. (HR: Bukhari dan Malik dalam al-Muwath-tha’)

Adapun sabda Nabi dalam riwayat ini, yang menunjukkan agar membuat perkiraan atau membuat ketentuan untuk menetapkan munculnya hilal bukan maksudnya legalitas untuk metode hisab sebagaimana yang dipahami oleh sebagian kaum, namun maksudnya adalah – dan ini yang benar insyallah – menentukan hilal dengan menyempurnakan jumlah bulan sya’ban menjadi tiga puluh hari, sangat bagus penjelasan Al-hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah seputar masalah ini dan berikut penulis nukilkan:

 والمراد بالحساب هنا حساب النجوم وتسييرها ولم يكونوا يعرفون من ذلك أيضا الا النزر اليسير فعلق الحكم بالصوم وغيره بالرؤية لرفع الحرج عنهم في معاناة حساب التسيير واستمر الحكم في الصوم ولو حدث بعدهم من يعرف ذلك بل ظاهر السياق يشعر بنفى تعليق الحكم بالحساب أصلا ويوضحه قوله في الحديث الماضي فإن غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين ولم يقل فسلوا أهل الحساب.

“Dan yang dimaksud dengan al-hisab di sini adalah perhitungan bintang dan Tasyirnya, dan mereka (Salaf) tidak mengetahui tentang itu kecuali sedikit, oleh karena itu maka digantungkanlah hukum puasa dan lainnya dengan metode ar-Ru’yah demi mengangkat kesusahan dari mereka dalam menanggulangi perhitungan perbintangan dan hukum tersebut terus berlaku dalam puasa walau pun terjadi setelah mereka ada orang yang mengetahui ilmu (hisab) tersebut  bahkan gaya bahasa dalam hadits ini secara nyata memberi rasa pada dasarnya meniadakan penggantungan hukum puasa dengan metode al-Hisab, dan (lebih) memperjelasnya adalah sabda Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam hadits yang telah lalu : “dan jika kalian terhalangi melihatnya maka sempurnakanlah jumlah bulan tiga puluh”, dan beliau tidak berkata disini : “maka tanyakanlah Ahli Hisab (Astronomi)”. [Fathul Bari 5/250. Cet. Dar Thayyibah]

Dan metode Ar-Ru’yah adalah metode yang telah ditetapkan juga dengan Ijma’ Ulama, Syaikh al-‘Allamah Bakr bin Abdillah Abu Zaid rahimahullah dalam kitabnya Fiqhun Nawazil Qadlaya Fiqhiyyah Mu’ashirah [2/199-200] mengumpulkan beberapa nukilan Ijma’ yang tersebar dari beberapa tokoh ulama Kibar (besar), beliau berkata:

 وهذا التقرير هو ما عرفه المسلمون في شتى عصورهم ، وما زالت عباداتهم قائمة وأمورهم راشدة ولا يعرف في هذا خلاف بين الصحابة رضي الله عنهم ، بل حكى شيخ الإسلام ابن تيمية : اتفاقهم وحكاه المهدي في البحر ومذاهب الأئمة الأربعة متفقة على ذلك قال مالك رحمه الله تعالى : إن من يصوم بالحساب لا يقتدى به . وقال ابن عرفة : لا أعرفه لمالكي بل قد حكى الإجماع على موجبه غير واحد من أهل العلم في القديم والحديث منهم : ابن المنذر في الإشراف ، وسند من المالكية ، والباجي ، وابن رشد القرطبي ، وشيخ الإسلام ابن تيمية ، والحافظ ابن حجر ، والسبكي ، والعيني ، وابن عابدين ، والشوكاني ، وصديق حسن خان في تفسيرهما لقوله تعالى { إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ } الآية . وملا علي قاري .وقال أحمد شاكر : (واتفقت كلمتهم أو كادت تتفق على ذلك

 

“Dan ketetapan ini (berpuasa dengan Ru’yah) ialah yang telah dikenal kaum muslimin dalam lintas era mereka, dan senantiasa ibadah mereka tegak dan urusan mereka teratur, dan tidak diketahui dalam hal ini adanya perbedaan di antara para Shahabat Radliyallahu ‘Anhum, bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah telah menghikayatkan kesepakatan mereka (para Shahabat). Dan Al-Mahdi telah menghikayatkannya dalam kitab Al-Bahr. Dan Madzhab para Imam yang empat bersepakat atas hal tersebut, Imam Malik berkata: “Sesungguhnya siapa saja yang berpuasa dengan perhitungan al-Hisab (astronomi) tidak boleh menjadi panutan, dan Ibnu ‘Arafah berkata: “aku tidak mengenal (adanya pendapat dengan hisab) bagi Madzhab Maliki.” Bahkan telah menceritakan adanya Ijma’ atas kewajibannya (dengan Ru’yah) tidak hanya satu dari Ahli Ilmu baik dari kurun terdahulu mau pun yang terkini, di antaranya adalah: Ibnul Mundzir dalam kitab Al-Isyraf, Sindi dari Madzhab Al-Malikiyyah, Al-Baji, Ibnu Rusyd Al-Qurthubi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Al-Hafizh Ibnu Hajar, As-Subki, Al-‘Aini, Ibnu Abidin, Asy-Syaukani dalam tafsirnya, Shadiq Hasan Khan dalam tafsirnya karena Allah berfirman : {Sesungguhnya Jumlah bilangan bulan}. Dan Mulla Ali Qari, dan Ahmad Syakir berkata: “pendapat mereka telah bersepakat atau hampir bersepakat atas itu.”.

Dan berikut penulis cukupkan dengan menukil ucapan Syaikhul Islam tentang Ijma’ tersebut, beliau berkata:

فإنا نعلم بالاضطرار من دين الإسلام أن العمل في رؤية هلال الصوم أو الحج أو العدة أو الإيلاء أو غير ذلك من الأحكام المعلقة بالهلال بخبر الحاسب أنه يرى أو لا يرى لا يجوز . والنصوص المستفيضة عن النبي صلى الله عليه وسلم بذلك كثيرة . وقد أجمع المسلمون عليه . ولا يعرف فيه خلاف قديم أصلا ولا خلاف حديث ؛ إلا أن بعض المتأخرين من المتفقهة الحادثين بعد المائة الثالثة زعم أنه إذا غم الهلال جاز للحاسب أن يعمل في حق نفسه بالحساب فإن كان الحساب دل على الرؤية صام وإلا فلا . وهذا القول وإن كان مقيدا بالإغمام ومختصا بالحاسب فهو شاذ مسبوق بالإجماع على خلافه

 “Maka sesungguhnya kita telah mengetahui dengan praktis dalam Agama Islam bahwa kegiatan melihat hilal puasa atau Haji, Atau ‘Iddah, atau al-Iela’, atau yang selain dari itu semua yang termasuk bagian dari hukum-hukum yang (ketentuan waktunya) dikaitkan dengan hilal. (adapun) dengan berita dari ahli hisab (astronomi) bahwa hilal terlihat ataukah tidak, (hukumnya) tidak boleh. Dan keterangan-keterangan yang telah terkenal luas dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan hal itu jumlahnya banyak. Dan kaum muslimin telah menyepakatinya (berijma’) , dan pada dasarnya tidak diketahui di dalamnya perbedaan pendapat di masa lampau, dan tidak juga pendapat di era baru, kecuali sebagian Muta’akh-khirin (kelompok yang datang belakangan) dari kelompok orang-orang yang sok mendalami fikih yang muncul setelah seratus tahun (kurun) ke tiga, menganggap bahwa apabila hilal terhalang dilihat boleh bagi ahli astronomi mengamalkan (ibadah) dalam hak dirinya sendiri dengan metode hisab, maka jika metode hisab menunjukkan hasil (hilal) terlihat ia berpuasa, dan jika tidak terlihat maka tidak. Dan pendapat ini walau pun dikaitkan hanya dengan ketika bulan tidak dapat dilihat dan dikhususkan kebolehannya dengan atas ahli hisab itu saja maka tetap adalah pendapat yang Syadz (menyendiri) yang telah didahului terlebih duhulu oleh Ijma’ atas penyelisihannya.” [Majmu’ Fatawa 13/ 66. Cet. Tahun 2014/1435. Darul Hadits Mesir.]

 Dengan demikian menjadi semakin jelas bahwa metode ru’yah adalah metode yang wajib dilakukan oleh kaum muslimin sedangkan metode hisab hendaknyalah ditinggalkan walau pun orang-orang yang membelanya berbicara atas nama ilmu dan kesesuaian zaman dan masa namun yang sunnah dan telah disepakati oleh para ulama terkemuka adalah dengan ru’yat.

Musa Abu ‘Affaf, BA.

[Bekasi 22 Sya’ban 1438/19 Mei 2017.]