Hukum Thawaf Di Kubur

Hukum Thawaf Di Kubur

Di antara masalah yang muncul dalam permasalahan Tauhid dan Kesyirikan adalah hukum terhadap individu yang melakukan kesyirikan, apakah dihukumi tetap dengan status muslim ataukah tidak?

Berikut ini kami nukilkan point-point dari fatwa syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah terhadap masalah ini dengan tema besar thawaf di kubur karena jahil:

س:  نشاهد في بعض البلاد الإسلامية أن هناك أناسًا يطوفون بالقبور عن جهل.. فما حكم هؤلاء، وهل يطلق على الواحد منهم مشرك؟

Pertanyaan: Kami saksikan di sebagian negara-negara Islam bahwa di sana ada orang-orang thawaf di kubur atas dasar kejahilan (tidak mengetahui hukumnya), bagaimanakah hukumnya dan apakah (boleh) individu perorangan dari mereka dikatakan sebagai orang yang musyrik?

حكم من دعا الأصنام واستغاث بها ونحو ذلك بحمد الله ظاهر وهو الكفر الأكبر إلاّ أن يدعي أنه طاف بالقبور بقصد عبادة الله، كما يطوف بالكعبة يظن أنه يجوز الطواف بالقبور ولم يقصد التقرب بذلك لأصحابها وإنما قصد التقرب إلى الله وحده، فهذا يعتبر مبتدعًا لا كافرًا؛ لأن الطواف بالقبور بدعة منكرة، كالصلاة عندها، وكل ذلك من وسائل الكفر، ولكن الغالب على عبّاد القبور هو التقرب إلى أهلها بالطواف بها، كما يتقربون إليهم بالذبح لهم والنذر لهم، وكل ذلك شرك أكبر، من مات عليه مات كافرًا لا يغسّل ولا يصلى عليه ولا يدفن في مقابر المسلمين، وأمره إلى الله عز وجل في الآخرة إن كان ممن لم تبلغه الدعوة فله حكم أهل الفترة

 Jawaban:

Hukum bagi siapa saja yang berdoa kepada berhala-berhala, dan melakukan Istighatsah kepadanya dan atau (perbuatan) semisal dengannya, – Bihamdillah – hukumnya jelas, yaitu kekufuran yang besar, kecuali apabila mereka mengklaim bahwa ia thawaf di kuburan dengan maksud ibadah kepada Allah sebagaimana (halnya) thawaf di Ka’bah, mereka mengira bahwasanya boleh  thawaf di kubur, dan dia tidak bermaksud untuk mendekatkan diri (bertaqarrub) kepada ahli kubur tersebut dengan thawaf itu, akan tetapi dia hanya bermaksud untuk mendekatkan diri kepada Allah saja, maka yang demikian ini termasuk pelaku bid’ah dan bukan kafir. Karena thawaf di kubur adalah bid’ah munkarah (munkar), sama hukumnya seperti shalat di sana, dan semua itu merupakan wasilah-wasilah yang dapat menjerumuskan kepada kekufuran. Akan tetapi kebanyakan (yang dilakukan oleh) para penyembah kubur adalah mereka mendekatkan diri kepada ahli kubur dengan thawaf di sisinya sebagaimana mereka mendekatkan diri dengan menyembelihkan sembelihan kepada mereka dan bernadzar kepada mereka dan semua itu merupakan syirik akbar. Barang siapa yang mati dalam keadaan semacam ini makai ia mati dalam keadaan kafir, tidak dimandikan, tidak disholati dan tidak pula dikubur bersama kaum muslimin dan urusannya diserahkan kepada Allah diakhirat kelak, kalau ia orang yang belum mendapatkan dakwah (ilmu tentangnya) maka berlaku baginya hukum ahli fatrah,

Beliau juga menegaskan :

 والحاصل: أن من أظهر الكفر في ديار الإسلام حكمه حكم الكفرة، أما كونه يوم القيامة ينجو أو لا ينجو فهذا إلى الله سبحانه وتعالى

“Dan kesimpulannya, barang siapa yang menampakkan kekufuran di negara islam maka hukumnya adalah hukum kekafiran, adapun pada hari kiamat apakah ia akan selamat atau tidak maka hal itu adalah urusan Allah ‘Azza wa Jalla,”

Dan Beliau juga menyimpulkan :

فالخلاصة: أن من لم تبلغه الدعوة كالذين في أطراف الدنيا أو في أوقات الفترات، أو كان بلغته وهو مجنون ذاهب العقل، أو هرم لا يعقل فهؤلاء وأشباههم مثل أولاد المشركين الذين ماتوا وهم صغار، فإن أولاد المشركين الذين لم يبلغوا الحلم كلهم أمرهم إلى الله، فالله يعلم بما كانوا عاملين، كما أجاب بذلك النبي صلى الله عليه وسلم لمن سأله عنهم، ويظهر علمه فيهم سبحانه يوم القيامة بالامتحان، فمن نجح منهم دخل الجنة، ومن لم ينجح دخل النار ولا حول ولا قوة إلاّ بالله

Kesimpulannya:

Sesungguhnya siapa saja yang tidak sampai dakwah kepada dirinya seperti orang-orang yang berada di penghujung dunia, atau seperti orang yang berada di zaman fatrah, atau telah datang dakwah kepada dirinya namun (ketika itu) ia dalam keadaan gila hilang akal atau dia dalam keadaan tua renta tidak memahami, maka mereka ini dan yang semisalnya (hukumnya) seperti anak-anak orang-orang musyrik yang mati sewaktu kecil, maka anak-anak orang-orang musyrik yang belum baligh semua urusan mereka kita serahkan kepada Allah, dan Allah lebih mengetahui apa yang telah mereka perbuat sebagaimana jawaban Nabi ﷺ sewaktu ditanya tentang mereka dan kelak akan mereka akan diuji oleh Allah pada hari kiamat, kalau mereka berhasil melewati ujian tersebut maka mereka akan dimasukkan kedalam syurga namun jika mereka gagal maka mereka akan dimasukkan kedalam neraka. Dan tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. [1]

Demikian fatwa ini kami sampaikan dengan sebenar-benarnya dan semoga mencerahkan Anda sekalian.

Alih Bahasa: Muhamad Fajri, M.Pd.I


 

[1]  Sumber Fatwa:

http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?languagename=ar&View=Page&PageID=11&PageNo=1&BookID=4