Hukum Menjawab Adzan

Hukum Menjawab Adzan

Pada dasarnya disyariatkan menjawab Adzan berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

عن أبى سعيد الخدرى أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:  إذا سمعتم النداء فقولوا مثل ما يقول المؤذن

Dari Abu Sa’id Al-khudry -radliyallahu ‘anhu – Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda: “Apabila kalian mendengarkan panggilan (adzan) maka kalian ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh Muadzin.” [Hadits riwayat Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidziy.]

Menjelaskan kandungan hadits ini Imam Asy-Syaukaniy rahimahullah berkata:

Hadits ini adalah pegangan ulama yang berpendapat wajibnya menjawab adzan, karena kata perintah dalam hadits tersebut melazimkan hal itu, hukum wajib tersebut telah diceritakan oleh Ath-Thahawiy dari kaum Salaf, dan itu adalah pendapat Madzhab Al-Hanafiyah, Ahluzh-Zhahir dan Ibnu Wahb. [1]

Adapun mayoritas ulama (Jumhur) berpendapat bahwa syariat menjawab adzan hukumnya tidak wajib namun Istihbab atau Sunnah. dan berikut adalah dalil yang dipegang oleh mayoritas ulama:

a). Hadits riwayat Muslim dari Anas bin Malik

عن أنس بن مالك قال كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يغير إذا طلع الفجر وكان يستمع الأذان فإن سمع أذانا أمسك وإلا أغار فسمع رجلا يقول الله أكبر الله أكبر فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم على الفطرة ثم قال أشهد أن لا إله إلا الله أشهد أن لا إله إلا الله فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم خرجت من النار فنظروا فإذا هو راعي معزي

“Dari Anas bin Malik beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu melakukan Igharah (penyerangan) apabila fajar telah terbit, dan beliau akan mencari adzan, maka apabila beliau telah mendengar adzan (dari tempat yang hendak akan diserang) beliau menahan (tidak menyerang) namun jika tidak mendapatkan suara adzan beliau melakukan serangan. Lalu beliau mendengar seorang berkata: “Allahuakbar Allahuakbar” maka rasulullah shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda: “Dia di atas Fithrah.” kemudian orang tersebut berkata lagi: “Asyahadu Anlaa Ilaaha Illallah, Asyahadu Anlaa Ilaaha Illallah“, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata: “Ia keluar dari Neraka.” lalu para Shahabat melihat ke arah orang tersebut, ternyata dia adalah seorang pengembala domba.” (Hr: Muslim)

Al-Amir Ash-Shan’any rahimahullah berkata:

وقد اختلف في وجوب الإجابة فقال به الحنفية وأهل الظاهر وآخرون وقال الجمهور لا يجب واستدلوا بأنه صلى الله عليه وسلم سمع مؤذنا فلما كبر قال على الفطرة فلما تشهد قال خرجت من النار أخرجه مسلم قالوا فلو كانت الإجابة واجبة لقال صلى الله عليه وسلم كما قال المؤذن فلما لم يقل دل على أن الأمر في حديث أبي سعيد للاستحباب

“Dan Jumhur berdalil dengan hadits bahwa Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah mendengar adzan namun ketika muadzin itu mengucapkan Takbir Nabi bersabda: “(ia) di atas Fithrah” dan manakala muadzin itu mengucapkan Syahadat, Nabi bersabda: “(Ia) keluar dari neraka”. Hadits ini dikeluarkan Muslim. (sisi pendalilannya) mereka berkata: “Maka jikalau menjawab adalah wajib maka Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam niscaya berucap seperti apa yang diucapkan muadzin, dan ketika beliau tidak berucap seperti itu, menunjukkan atas hukum dalam hadits Abu Sa’id bertujuan untuk Istihbab (perintah yang bersifat sunnah).” [2]

Imam Asy-Syaukaniy berkata : ” Jumhur Ulama berpendapat tidak wajib menjawab adzan, Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata : “Jumhur berdalil dengan hadits riwayat Anas bin Malik (yaitu hadits dalam shahih muslim di atas), dan mereka menjelaskan: “Maka ketika Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata dengan selain dari ucapan Muadzin maka dari situ kita mengetahui bahwa makna perintah dalam hal ini adalah Istihbab (sunnah tidak wajib).” [3]

b). Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Malik bin Al-Huwairits.

عن مالك بن الحويرث أتيت النبي صلى الله عليه وسلم في نفر من قومي فأقمنا عنده عشرين ليلة وكان رحيما رفيقا فلما رأى شوقنا إلى أهالينا قال ارجعوا فكونوا فيهم وعلموهم وصلوا فإذا حضرت الصلاة فليؤذن لكم أحدكم وليؤمكم أكبركم

Dari Malik bin Al-Huwairits Radliyallahu ‘Anhu, beliau berkata: “Aku pernah mengunjungi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam beserta beberapa orang dari kaumku, kami tinggal di sisi Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam selama dua puluh malam, beliau adalah sosok yang sangat penyayang, sosok yang lembut, di saat beliau melihat kami telah rindu kepada keluarga kami beliau bersabda: “Pulanglah kalian, tinggallah kalian bersama keluarga kalian, dan ajarkanlah mereka dan shalatlah, dan apabila shalat telah tiba maka seorang dari kalian adzanlah dan hendaknya orang yang paling sepuh di antara kalian yang mengimami kalian.” [Hr: Bukhari, Muslim, dan ini adalah redaksi riwayat Bukhari]

Menurut Syaikh Shalih Utsaimin rahimahullah bahwa hadits ini sebagai dalil yang menunjukkan tidak wajibnya menjawab adzan. [Asy-Syarhul Mumti’ 2/38] Dan pendapat ini diperkuat kembali oleh Syaikh Abdullah Al-fauzan Hafizhahullah bahkan beliau mengatakan bahwa hadits ini lebih jelas petunjuknya dari pada hadits yang dipegang oleh Jumhur. beliau berkata:

إذا حضرت الصلاة فليؤذن لكم أحدكم، وليؤمكم أكبركم.  فهذا يدل على أن المتابعة غير واجبة، وذلك لأن المقام مقام تعليم، والحاجة داعية إلى بيان كل ما يحتاج هؤلاء، وقد لا يكون عندهم علم بما قاله النبي صلّى الله عليه وسلّم في متابعة المؤذن، فلما ترك النبي صلّى الله عليه وسلّم التنبيه على ذلك مع دعاء الحاجة إليه دل على أن الإجابة غير واجبة

“Apabila shalat telah tiba, maka hendaklah seorang dari kalian adzan untuk kalian, dan orang yang paling sepuh di antara kalian hendaklah mengimami kalian.” Hadits ini menunjukkan bahwa mengikuti (ucapan muadzin) tidak wajib, karena sabda nabi kepada Malik Al-Huwairits tersebut adalah moment Nabi memberikan pelajaran, sedangkan kebutuhan mendesak ada pada saat itu untuk menjelaskan semua yang dibutuhkan oleh mereka, dan bisa saja mereka belum mengetahui ucapan Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam mengikuti (menjawab) muadzin, maka ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menjelaskan persoalan itu pada moment penting tersebut disamping juga ada kebutuhan mendesak untuk menjelaskannya, maka semua itu menunjukkan bahwa menjawab adzan tidak wajib.” [4]

Demikian pula sisi pendalilan yang dijelaskan oleh Syaikh Shalih Utsaimin, tidak jauh berbeda.

c). Atsar Tsa’labah bin Abi Malik dalam Al-Muwathha’

عن ثعلبة بن أبى مالك القرظى أنه أخبره أنهم كانوا فى زمان عمر بن الخطاب يصلون يوم الجمعة حتى يخرج عمر فإذا خرج عمر وجلس على المنبر وأذن المؤذنون – قال ثعلبة – جلسنا نتحدث فإذا سكت المؤذنون وقام عمر يخطب أنصتنا فلم يتكلم منا أحد

“Dari Tsa’labah bin Abi Malik Al-Qurzhiy beliau mengabarkan, bahwa mereka di zaman Umar bin Al-Khathhab Radliyallahu ‘Anhu, pernah shalat jum’at sampai akhirnya Umar datang, apabila Umar telah datang dan duduk di atas Mimbar, dan muadzin mengumandangkan adzan – Tsa’labah berkata: – Kami duduk sembari berbincang, apabila muadzin telah diam (selesai adzan) dan Umar telah berdiri berkhuthbah, kami pun diam dan tidak satu pun dari kami yang berbicara.” (HR: Imam Malik) [5]

Syaikh Al-Muhaddits Nashiruddin Al-Albaniy Rahimahullah berkata:

في هذا الأثر دليل على عدم وجوب إجابة المؤذن لجريان العمل في عهد عمر على التحدث في أثناء الأذان وسكوت عمر عليه

“Dalam Atsar ini terdapat dalil atas tidak wajibnya menjawab adzan karena amaliyah inilah yang berlaku di masa Umar, yaitu berbincang di tengah adzan dikumandangkan dan karena diamnya Umar atas hal ini.” [5]

Jadi demikianlah dalil-dalil dan sisi pendalilannya yang merubah asal makna perintah wajib menjawab adzan dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudriy menjadi perintah Istihbab atau Sunnah, walau pun demikian, tentu yang lebih bagus ialah menyempatkan diri untuk menjawab adzan. Wallahu A’lam.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه وأزواجه وسلم تسليما كثيرا

Musa Abu ‘Affaf, BA.

Bekasi 6 September 2017.


[1]  Nailul Authar 2/74 Cet. Al-Maktabah At-Taufiqiyyah-Mesir.

[2] Subulussalam (1/129) Versi Al-Maktabatusy-Syamilah

[3] Nailul Authar 2/74 Cet. Al-Maktabah At-Taufiqiyyah-Mesir.

[4] Minhatul ‘Allam (1/219) Versi Al-Maktabatusy-Syamilah

[5] Al-Muwathha’ 1/ 111/ Cet. Darul Makrifah- Bairut

[6] Tamamul Minnah (1/339.) Versi Al-Maktabatusy-Syamilah