Hukum Bershaff Seorang Diri

Hukum Bershaff Seorang Diri

Bismillah Walhamdulillah

Apabila seorang lelaki tidak masuk ke Shaff dan berdiri sendiri di belakang Shaff, bagaimanakah hukum shalat seperti ini? Sebab hal ini kerap kita jumpai di masjid-masjid.!

Baiklah, pembaca yang dimuliakan Allah, sebenarnya gambaran masalah ini telah disebutkan dalam beberapa hadits, di antaranya adalah:

  1. Hadits riwayat Wabishah bin Mi’bad Radliyallahu ‘Anhu.

أن رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رأى رجلاً يصلي خلف الصف وحده فأمره أن يعيد في الصلاة

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah melihat seorang lelaki sedang shalat di belakang Shaff hanya sendiri, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian memerintahkan orang tersebut agar mengulangi shalatnya.”

 Al-‘Allamah Jamaluddin Az-Zaila’iy rahimahullah berkata: “hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud, Attirmidziy, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, Al-Bazzar dalam Musnadnya, dan oleh Al-Baihaqiy. [Nashburrayah 2/38 cet. Muassasah Ar-Rayyan.]

Hadits ini juga telah ditakhrij oleh Syaikh Al-Albany rahimahullah dalam Irwa’ul Ghalil (2/323) dan beliau menghukuminya Shahih.

  1. Hadits Riwayat Ali bin Syaiban Radliyallahu ‘Anhu

لا صلاة لفرد خلف الصف وحده

“Tidak ada shalat untuk orang yang bersendiri dibelakang Shaff.”

[Hadits ini dikeluarkan Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban, sedangkan redaksi ini adalah riwayat Ibnu Hibban.]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

وهو إسناد صحيح كما بينته في الكلام على زوائد ابن ماجة

“Dia adalah hadits yang Sanadnya Shahih seperti yang telah aku terangkan ketika membahas Zawaid Ibnu Majah.” [Ittihaful Khiyaratil Mahrah Bi Zawaidil Masanidil Al-‘Asyrah.”]

Dua riwayat ini barangkali sudah mencukupi dan mewakili garis besar riwayat riwayat hadits yang ada dengan tema yang sama, dan alangkah baiknya apabila pembaca mencoba menghafalkan kedua riwayat ini.

Kemudian fiqh dari hadits ini, yang merupakan tema besar dalam tulisan ini, Imam Abu Umar Ibnu Abdil Barr rahimahullah mengatakan bahwa hukum shalat seorang di belakang Shaff sendirian adalah masalah yang telah diperselisihkan oleh para ulama sejak dahulu.

Dan kedua hadits di atas merupakan hujjah atau dalil yang dipegang oleh para Ulama yang memandang tidak sahnya shalat seorang makmum sendiri di belakang Shaff, di antara ulama tersebut adalah Al-Hasan bin Hayy, Al-Auza’iy, Ahmad bin Hanbal, Ishaq, dan sebagian besar Ahli Zhahir, mereka berkata : “seorang lelaki jangan shalat di belakang Shaff sendirian, jika ia lakukan hal itu maka wajib atasnya mengulangi.” [ Abu ‘Umar, Al-Istidzkar( 6/247)]

Pedapat ini dipandang kuat oleh Syaikh Shalih Utsaimin rahimahullah dan beliau me-Rajihkannya, beliau berkata:

وبهذا تبين أن القول الراجح وجوب المصافة , وأن من صلى وحده خلف الصف فصلاته باطلة , وعليه أن يعيدها لتركه واجب المصافة ولكن هذا الواجب كغيره من الواجبات ؛ يسقط بفوات محله , أو بالعجز عنه عجزاً شرعياً , أو عجزا حسياً لقوله تعالى  فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُم

 “Dan dengan ini menjadi jelas, bahwa pendapat yang Rajih adalah wajib Al-Mushaffah (masuk ke dalam Shaff yang ada) dan siapa saja yang shalat sendiri di belakang Shaff maka Shalatnya batal, dan wajib atasnya mengulanginya, karena ia meninggalkan kewajiban bershaff.”

Beliau meneruskan :

“Akan tetapi kewajiban ini sama seperti perkara-perkara wajib lainnya, (ia menjadi) gugur dengan ketiadaan tempat, atau karena sebab tidak mampu melakukannya, dalam artian tidak mampu secara syar’i atau tidak mampu secara fisik, karena Allah berfirman : “Maka takutlah kepada Allah semampu kalian.” (Qs: At-Taghabun 16)” [ Majmu’ Fatawa Wa Rasa’il Ibnu Utsaimin (15/189) ]

Imam An-Nawawiy rahimahullah berkata:

والمشهور عن احمد واسحق أن المنفرد خلف الصف يصح احرامه فان دخل في الصف قبل الركوع صحت قدوتة والا بطلت صلاته

Namun pendapat yang Masyhur dari Imam Ahmad dan Ishaq adalah sah Takbiratul Ihramnya orang yang bersendiri di belakang shaff, dan apabila dia masuk ke dalam Shaff sebelum rukuk maka sah kemakmumannya jika tidak (yaitu tidak masuk ke Shaff setelah Takbiratul Ihram) maka shalatnya batal.” [Majmu’  Syarhul Muhadzzab (4/298)]

Hal serupa juga disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, beliau berkata :

وجمع أحمد وغيره بين الحديثين بوجه آخر وهو أن حديث أبي بكرة مخصص لعموم حديث وابصة فمن ابتدأ الصلاة منفردا خلف الصف ثم دخل في الصف قبل القيام من الركوع لم تجب عليه الإعادة كما في حديث أبي بكرة وإلا فتجب على عموم حديث وابصة وعلى بن شيبان

“Dan Imam Ahmad dan lainnya menggabungkan antara kedua hadits ini dengan pandangan lain, yaitu bahwa hadits Abu Bakrah adalah Mukhasshish (menjadi pengkhusus) untuk keumuman hadits Wabishah, (sehingga dengan begitu) maka siapa saja yang memulai shalat dalam keadaan sendiri di belakang shaff kemudian dia masuk ke dalam shaff sebelum (imam) berdiri dari rukuk, tidak wajib atas mengulangi, (hal ini sama) seperti apa yang ada dalam hadits Abu Bakrah, jika tidak, (jika tidak masuk ke dalam Shaff) maka wajib atasnya mengulangi berdasarkan atas keumuman hadits Wabishah dan Ali bin Syaiban.”. [Fathul Bary 2/703. Cet. Dar Thayyibah ]

Pendapat Jumhur Ulama Dan Dalilnya 

Sedangkan para Imam lainnya, seperti Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, dan Ash-Hab (ulama yang mengikuti Madzhab) mereka berdua, dan Al-Laits bin Sa’d, dan Ast-Tsauriy, beliau semua berkata: “Apabila seorang lelaki bershaff di belakang sendirian maka (sah) memadai shalatnya.” Demikian juga pendapat yang pegang oleh Imam Malik. Rahimahumullah Al-Jami’. [ Abu ‘Umar, Al-Istidzkar( 6/247)]

Mereka berdalil dengan Hadits berikut ini :

عن أبي بكرة أنه انتهى إلى النبي صلى الله عليه وسلم وهو راكع فركع قبل أن يصل إلى الصف فذكر ذلك للنبي صلى الله عليه وسلم فقال زادك الله حرصا ولا تعد. رواه البخاري

Dari Abu Bakrah radliyallahu ‘Anhu bahwa setibanya beliau ke (shalat jama’ah yang diimami) Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan saat itu Nabi dalam keadaan sedang Rukuk, maka Beliau (Abu Bakrah) rukuk sebelum beliau sampai ke (dalam barisan) Shaff (yang telah ada), lalu ada yang menyebutkan kejadian ini kepada Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan lalu Beliau bersabda: “Semoga Allah menambahkan Hirsh (kerakusan dalam kebaikan) untukmu dan kamu jangan ulangi.” [HR: Bukhariy dan Abu Dawud]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata:

واستدل الشافعي وغيره بحديث أبي بكرة على أن الأمر في حديث وابصة للاستحباب لكون أبي بكرة أتى بجزء من الصلاة خلف الصف ولم يؤمر بالإعادة لكن نهى عن العود إلى ذلك فكأنه أرشد إلى ما هو الأفضل وروى البيهقي من طريق المغيرة عن إبراهيم فيمن صلى خلف الصف وحده فقال صلاته تامة وليس له تضعيف

“Imam Asy-Syafi’i dan lainnya menjadikan hadits Abi Bakrah sebagai dalil bahwa perintah (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) dalam hadits Wabishah (bin Mi’bad) bermakna Istihbab (sunnah) karena Abu Bakrah Radliyallahu ‘Anhu telah mendatangkan bagian dari shalat dibelakang Shaff, dan beliau tidak diperintahkan untuk mengulang shalat, akan tetapi beliau dilarang mengulangi perbuatan itu, maka seolah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan beliau ke amalan yang lebih Afdlal (utama). Dan Al-Baihaqiy meriwayatkan dari jalur Al-Mughirah dari Ibrahim tentang hukum shalat sendiri dibelakang Shaff, beliau (Ibrahim) berkata: “Shalatnya sempurna dan tidak ada Tadl’if (pelipat gandaan pahala) baginya”. Selesai. [Fathul Bary 2/703]

Namun walau pun hukum shalatnya sah, akan tetapi Madzhab Asy-Syafi’iyyah menegaskan bahwa hukum sah tersebut disertai dengan Makruh, Imam An-Nawawiy Rahimahullah menjelaskan :

في مذاهب العلماء في صلاة المنفرد خلف الصف: قد ذكرنا أنها صحيحة عندنا مع الكراهة

“Kami telah menyebutkan bahwa sesungguhnya (shalat seorang diri di belakang Shaff) adalah sah di sisi kami disertai (dengan hukum)  Makruh.” [Majmu’ Syarhul Muhadzzab]

Maka dapat kita simpulkan bahwa shalatnya orang yang bersendiri di belakang Shaff hukumnya Sah menurut Jumhur Ulama namun disertai makruh dalam madzhab Asy-Syafi’iyyah, sehingga ia tidak wajib mengulangi shalatnya lagi, dan pendapat inilah yang penulis ikuti, terlebih apabila dalam keadaan memang tidak memungkinkan lagi untuk masuk bergabung ke Shaff yang telah ada maka tentuya – seperti yang dijelaskan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah – menjadi gugur kewajibannya masuk ke dalam Shaff sehingga jelas ia tidak perlu untuk mengulangi shalatnya kembali. Wallahu A’lam.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين

Bekasi, 14 Sep 2017

Musa Abu ‘Affaf, BA.