Hewan Kurban Terkena Aib Sebelum Disembelih?

Hewan Kurban Terkena Aib Sebelum Disembelih?

Ulama berbeda pendapat apabila hewan kurban tertimpa aib setelah ditentukan sebagai kurban namun sebelum disembelih, apakah hewan ini menjadi sah atau tidak menjadi kurban?

Perbedaan pendapat tersebut terbagi menjadi dua : namun yang Shahih dan Rajih adalah pendapat yang menyebutkan menjadi sah dan inilah pendapat mayoritas ulama, Ibnu Qudamah berkata:

إذا أوجب أضحية صحيحة سليمة من العيوب، ثم حدث بها عيب يمنع الإجزاء ذبحها، وأجزأته. روي هذا عن عطاء والحسن والنخعي والزهري والثوري ومالك والشافعي وإسحاق

“Apabila seorang telah menentukan hewan kurban yang sehat dan selamat dari aib-aib, kemudian terjadi dengannya aib yang dapat mencegah keabsahan padanya, ia (boleh meneruskan) menyembelihnya dan itu mencukupinya (sah). Pendapat ini diriwayatkan dari ‘Atha, Al-Hasan, An-Nakha’i, Az-Zuhriy, Ats-Tsauriy, Malik, Asy-Syafi’i, dan Ishaq.”

Dan dalil pendapat ini adalah hadits yang telah diriwayatkan Al-Baihaqiy dari Ibnu Zubair radliyallahu ‘Anhu:

أنه أتي في هداياه بناقة عوراء، فقال: إن كان أصابها بعد ما اشتريتموها فأمضوها، وإن كان أصابها قبل أن تشتروها فأبدلوها

“Bahwa beliau dikirimkan Hadaya (hewan-hewan yang akan disembelih pada saat berhaji) miliknya berupa unta yang buta sebelah, maka beliau pun berkata: “Apabila aib (buta ini) menimpanya setelah kalian membelinya maka lanjutkan saja, namun jika yang menimpanya terjadi sebelum kalian membelinya, maka gantilah.”

Imam An-Nawawiy berkata dalam Al-Majmu’ hadits ini Sanadnya Shahih.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Majmu’ Al-Fatawa:

وأما إذا اشترى أضحية فتعيبت قبل الذبح، ذبحها في أحد قولي العلماء

“Dan adapun apabila ia membeli hewan kurban kemudian tertimpa aib setelah ia menentukannya sebagai kurban sebelum penyembelihan, (boleh ia) menyembelihnya menurut salah satu dari dua pendapat ulama.” [1]

Namun perlu diingat, aib yang ditoleransi di sini adalah aib yang terjadi dengan sendirinya pada hewan kurban, bukan aib yang terjadi karena perlakuan si pemilik atau wakilnya, Syaikh Shalih Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan :

Apabila terkena aib atau cacat yang dapat mencegah keabsahannya sebagai hewan kurban maka dalam hal ini ada dua keadaan :

pertama : Aib yang terjadi karena perbuatannya dan karena keteledorannya maka dalam hal ini si pekurban wajib mengganti hewan tersebut dengan hewan kurban yang sejenis dan selamat dari aib dan cacat. karena aib tersebut terjadi dengan sebab perbuatan dirinya, dan inilah alasan yang mengharuskan tenggung jawab untuk menggantinya dengan hewan yang sejenis, sedangkan hewan kurban yang terkena aib tadi tetap menjadi miliknya menurut pendapat yang kuat sehingga ia boleh menjualnya atau pun dimanfaatkan untuk kebutuhan lainnya selain berkurban.

kedua :  Aib tersebut terjadi bukan karena perbuatannya dan bukan pula karena keteledorannya maka dalam hal ini ia boleh menyembelihnya sebagai kurban dan hukumnya sah, karena hewan kurban tersebut adalah amanah titipan yang tengah dijaganya, dan menjadi terkena aib bukan karena perlakuan dan keteledorannya, maka tidak ada dosa atasnya dan tidak ada tanggungan yang harus ia ganti. [2]

Washallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammad Wa’ala Alihi Wa Ashahabihi Ajma’in.

Abu ‘Affaf Musa. BA.


[1] dinukil dari http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=116558 dengan bahasa penyesuaian demi memudahkan.

[2] di nukil dari  https://islamqa.info/ar/39191  dengan penyesuaian bahasa demi memudahkan pemahaman.