Hadits Mencabut Orang Dari Shaffnya Ke Belakang

Hadits Mencabut Orang Dari Shaffnya Ke Belakang

Bismillah , Walhamdulillah.

Saat seorang makmum tidak mendapatkan tempat dalam shaff sehingga terpaksa harus berdiri di belakng seorang diri, dalam keadaan seperti ini, apakah dia boleh menarik seorang yang ada didepannya supaya ada yang menemani dia bershaff di belakang ?

Persoalan menarik orang yang berada di depan shaff ke belakang untuk menemani dirinya sehingga ia tidak menjadi bershaff hanya seorang diri adalah masalah yang telah dikenal sejak dahulu kala oleh para ulama, dan tentunya telah ada beberapa riwayat hadits yang menjelaskannya, nah bagaimanakah sebenarnya hadits tersebut? Berikut penjelasannya yang berhasil penulis kumpulkan:

  1. Riwayat Muqatil bin Hayyan Rahimahullah (Wafat 150 H.)

إن جاء رجل فلم يجد أحدا فليختلج إليه رجلا من الصف فليقم معه فما أعظم أجر المختلج

Artinya: “Jika seorang lelaki datang kemudian tidak mendapatkan seorang pun, maka hendaklah ia mencabut seorang lelaki dari shaff (di depannya) ke posisi dirinya dan hendaklah ia berdiri bersamanya maka betapa besar pahala balasan orang yang dicabut itu,”[1]

[Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud dalam Al-Marasil 1/189/Cet. Dar Ash-Shumai’iy. Tahqiq Syaikh Doktor Abdullah bin Musa’id Azzahraniy.]

Imam Al-Baihaqiy Rahimahullah berkata : “Hadits ini Munqathi’ ,”. [Sunanul Kubra 3/105] (Munqathi’ maksudnya ada yang terputus dalam silsilah periwayatannya)

Menurut Syaikh Al-Albaniy Rahimahullah hadits ini lemah, namun pada dasarnya memiliki Sanad periwayatan yang tidak buruk, jikalau saja bukan karena Mursal, dan memungkinkan untuk diperkuat dengan riwayat lainnya, namun sayangnya riwayat lain tersebut juga ternyata lemah dan bahkan sangat lemah. Beliau berkata:

وسنده لا بأس به لولا إرساله وكان يمكن تقويته بحديث ابن عباس ووابصة لولا شدة ضعفهما فيبقى الحديث على ضعفه

“Dan Sanadnya La Ba’sa Bih (tidak ada keburukan padanya) jikalau saja bukan karena ke-Mursal-annya, dan mungkin saja menjadikannya kuat dengan hadits Ibnu Abbas dan hadits Wabishah jikalau saja bukan karena sangat lemahnya kedua riwayat tersebut, maka hadits ini tetap di atas ke-Dha’if-annya.” [Irwaul Ghalil 2/328/Cet. Al-Maktabul Islamiy]

Dengan demikian berarti hadits ini lemah (Dla’if) menurut Syaikh Al-Albany Rahimahullah.

Syaikh Doktor Abdullah bin Musa’id Azzahraniy dalam catatan kaki yang beliau tulis dengan detil terhadap hadits ini mengatakan : “Hadits ini (hukumnya) Hasan sampai ke periwayat yang memursalkannya,”.[2]  Demikian kesimpulan beliau, dan yang dimaksudkan dengan memursalkan hadits dalam hal ini adalah Muqatil bin Hayyan.

Adapun riwayat lainnya, adalah dua riwayat dari Ibnu Abbas dan Wabishah seperti yang disebutkan Syaikh Al-Albaniy Rahimahullah sebelumnya, dan berikut redaksi haditnya:

  • Riwayat Ibnu Abbas Radliyallahu ‘Anhu

عن بن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا انتهى أحدكم إلى الصف وقد تم فليجذب إليه رجلا يقيمه إلى جنب

Dari Ibnu Abbas Radliyallahu ‘Anhuma beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda: “Apabila seorang dari kalian telah tiba ke (tempat) Shaff namun Shaff telah penuh, maka hendaklah ia menarik seorang (yang ada di depan dalam Shaff) ke posisi dirinya memberdirikannya ke samping dirinya”,

[Hadits ini diriwayatkan Imam Ath-Thabraniy dalam Mu’jamul Ausath 7/374/ dengan No. 7764, cet. Darul Haramain, dan hadits ini Dla’if]

Imam Ath-Thabraniy Rahimahullah berkata : “Hadits ini tidak pernah diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kecuali dengan Sanad ini, Bisyr bin Ibrahim menyendiri dengan periwayatannya”

Syaikh Al-Albaniy Rahimahullah berkata:

وهو ممن كان يضع الحديث , كما قال غير واحد من الأئمة , وقال الهيثمى:  هو ضعيف جداً

“Dan dia (Bisyr bin Ibrahim) tergolong dari periwayat yang membuat-buat hadits, sebagaimana bukan hanya satu dari para Imam (Jarh Wat Ta’dil) yang telah mengatakannya, dan Al-Haitsamiy berkata: “Dia Dla’if sekali.”. [Irwaul Ghalil 2/328/Cet. Al-Maktabul Islamiy]

  • Riwayat Wabishah bin Mi’bad Radliyallahu ‘Anhu

عن وابصة قال : رأى رسول الله –صلى الله عليه وسلم- رجلا صلى خلف الصفوف وحده. فقال : أيها المصلى وحده ألا وصلت إلى الصف أو جررت إليك رجلا فقام معك أعد الصلاة

“Dari Wabishah beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (suatu ketika) melihat seorang lelaki shalat hanya sendiri di belakang shaff, maka Beliau bersabda: “Wahai orang yang shalat sendiri, tidakkah kamu menyambung ke shaff atau kamu menarik seorang ke posisimu sehingga ia berdiri (bershaff) bersamamu, ulangilah Shalat,”

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Al-Baihaqiy Rahimahullah dalam Sunanul Kubra (3/105/No.Hadits 5416.) dan beliau berkata setelahnya: “Assariy bin Ismail telah menyendiri dengan periwayatannya (hadits ini) dan dia Dla’if.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata:

 

 تفرد به السرى بن إسماعيل وهو متروك

Assariy bin Ismail ada dalam Sanadnya hadits ini dan dia (adalah periwayat) Matruk.” [At-Talkhish Al-Habir 2/938/Cet. Adl-Waussalaf.]

Kedua riwayat ini seandainya Shahih atau Hasan, atau tidak terdapat di dalamnya perawi yang Matruk maka insyallah ada harapan untuk dijadikan sebagai Syahid yang memperkuat riwayat Muqatil bin Hayyan, akan tetapi karena kedua riwayat ini sangat lemah maka tidak ada jalan untuk dijadikan penguat. Sedangkan Mursal Muqatil bin Hayyan dalam hadits tersebut telah dihukumi terputus (Munqathi’) oleh Imam Al-Baihaqiy, dan ini menutup jalan untuk bisa berhujjah dengannya.

Walau pun demikian, namun pada praktiknya sebagian Ahli Fiqh tetap menilainya sah beramal dengan kandungan hadits ini sebagaimana ini kita bisa temukan dalam kitab-kitab Fiqh, dan insyallah penulis akan uraikan dalam kesempatan lainnya di sini.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما كثيرا 

Bekasi 19 Sep. 2017

Musa Abu ‘Affaf, BA.


[1] Syaikh Abdullah bin Musa’id Azzahraniy menjelaskan bahwa hadits ini dikeluarkan oleh Al-Baihaqiy dalam Sunanul Kubra, dan Ath-Thabraniy dalam Al-Ausath, Ibnul A’rabiy dalam Al-Mu’jam dan oleh Abu Nu’aim dalam Tarikh Al-Ashbahan.

[2] Catatan kaki Al-Marasil Abu Dawud 1/189/Cet. Dar Ash-Shumai’iy. Oleh Syaikh Doktor Abdullah bin Musa’id Azzahraniy.]