Hadits Anjuran Memberi Keluasan Keluarga Di ‘Asyura

Hadits Anjuran Memberi Keluasan Keluarga Di ‘Asyura

Sebagian masyarakat muslim merayakan hari ‘Asyura dengan memberikan keluasan makan dan minum untuk anggota keluarganya, di sebagian tempat hal ini telah mereka jadikan sebagai tradisi dalam Agama, dan disangkakan sebagai bagian dari amalan yang Sunnah secara khusus di hari tersebut.

Pada dasarnya keutamaan meluaskan keluarga dengan makan dan minum di hari ‘Asyura disebutkan dalam beberapa riwayat hadits, akan tetapi bagaimanakah status hukum hadits ini menurut para Ulama? berikut kami paparkan ringkasannya.

Hadits tersebut berbunyi :

من وسع على أهله في يوم عاشوراء أوسع الله عليه سنته كلها

Artinya: “Siapa saja yang meluaskan atas keluarganya pada hari ‘Asyura, Allah akan meluaskan tahunnya atasnya seluruhnya.”

Hadits ini datang dari empat jalur periwayatan yaitu:  dari Abu Sa’id Al-Khudry, Abu Hurairah, Jabir bin ‘Abdillah, dan Abdullah bin Mas’ud Radliyallahu ‘Anhum Ajma’in.

Adapun jalur riwayat  Abu Sa’id Al-khudriy dikeluarkan oleh Imam Ath-Thabraniy dalam Al-Mu’jamul Ausath, dan redaksi hadits di atas berasal darinya. (Mu’jamul Austah. lihat Hadits No. 9302 (9/121/Cet. Darul Haramain.)

Sedangkan jalur riwayat Abdullah bin Mas’ud Radliyallahu;anhu dikeluarkan juga oleh Imam Ath-Thabraniy  namun dalam Al-Mu’jamul Kabir (hadits No. 10007 (94/10/Cet. Maktabah Ibnu Taimiyyah-Kaero)

Dan keempat jalur riwayat tersebut dikeluarkan oleh Imam Al-Baihaqiy dalam kitabnya Syu’abul Iman (5/331) Dan beliau berkata:

هذه الأسانيد كلها ضعفة ولكن إذا ضم بعضها إلى بعض أفاد قوة والله أعلم

“Sanad-sanad ini semuanya lemah namun apabila dikumpulkan sebagiannya dengan yang lain menghasilkan kekuatan.” Wallahu A’lam.”

Sedangkan riwayat dari Jabir bin ‘Abdillah dikeluarkan juga oleh Imam Ibnu Abdil Barr dalam Al-Istidzkar, dan di dalamya juga terdapat riwayat dari Umar bin Khathhab radliyallahu ‘Anhu. [Al-Istidzkar 10/140]

Dan riwayat lainnya berasal dari Ibrahim bin Muhammad bin Al-Muntasyir secara Mursal dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Al-Istidzkar, (10/140) dan dikeluarkan pula oleh Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (Hadits No.3516 (5/332)

Disebutkan dalam Al-Istidzkar bahwa sebagian Ulama Salaf telah mencoba mengamalkan hadits ini dan mereka mendapatkan bukti dari kebenarannya, artinya (mereka tidak mengingkarinya). Dan riwayat tersebut datang masing-masing dari Jabir, Syu’bah, Yahya bin Sa’d, dan Sufyan ibnu ‘Uyainah. Radliyallahu ‘Anhum.

Selain riwayat-riwayat di atas, hadits ini juga dikeluarkan oleh Imam Ad-Daruquthniy dalam kitab Al-Afrad melalui jalur periwayatan Abdullah bin Umar, Radliyallahu ‘Anhu.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan kesimpulan Imam Al-Baihaqiy atas hadits ini seperti yang tersebut di atas, dalam kitab Al-Amaliy Al-Muthlaqah (1/30) namun tanpa disertai komentar dan kritik, namun ini menjadi sebuah sinyal bahwa beliau menguatkan hadits ini, hal ini menjadi  terang karena sebelumnya dalam riwayat beliau ke Abu Sa’id Al-Khudriy beliau menguatkannya, beliau berkata:

لولا الرجل المبهم لكان إسناده جيدا , لكنه يقوي بالذي قبله

“Kalau seandainya bukan karena seorang periwayat yang Mubham (tidak diketahui statusnya) niscaya Sanadnya menjadi baik, akan tetapi hadits ini menguat dengan hadits yang sebelumnya.” [Al-Amaliy Al-Muthlaqah 1/28]

As-Sakhawiy rahimahullah menyebutkan bahwa hadits ini dinilai Hasan oleh Al-‘Iraqiy dalam kitab Al-Amaliy. [Al-Maqashidul Hasanah 1/ 504/cet. Darul kitab Al-‘Arabiy]

Dan Abul Fadl Zainuddin Al-‘Iraqiy telah menulis secara tersendiri tentang hadits ini dalam kitab yang dikenal dengan nama “At-Tausi’ah Alal ‘Iyal Li Abi Zur’ah”. Dan kitab ini masih dalam bentuk Makhthuthah (manuskrip) namun telah di Tahqiq dan diliris dalam versi Asy-Syamilah.

Di dalam kitab tersebut Al-‘Iraqiy membantah fatwa Syakhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang melemahkan hadits ini.

Jalaluddin As-suyuthiy rahimahullah mencoba menguatkan hadits ini dan beliau menyatakannya shahih seperti dalam kitabnya Addurarul Muntsur (1/186) dan beliau berkata:

هو ثابت صحيح

“Hadits ini Tsabit (yang tetap keberadaannya) lagi shahih”

Maka kesimpulannya hadits ini dinilai Shahih atau kuat oleh para imam tersebut dan mereka adalah ; Imam Al-Baihaqiy, Al-Hafizh Ibnu Hajar, Zainuddin Al-Iraqiy dan Al-Hafizh As-Suyuthiy. Rahimahumumullah Jami’an.

Hadits Ini Lemah

Di sisi lain, hadits ini dinilai lemah oleh Imam Ibnu Jauziy rahimahullah bahkan beliau sampai meletakkannya ke dalam kitab Al-Maudlu’at dan beliau berkata di dalamnya atas riwayat yang berasal dari Abu Hurairah:

قال العقيلى: الهيصم مجهول والحديث غير محفوظ

قال ابن حبان: الهيصم يروى الطامات لا يجوز الاحتجاج به

“Al-‘Uqailiy berkata Al-Haisham Majhul (periwayat yang tidak diketahui) dan hadits ini tidak Mahfuzh (tidak shahih), Ibnu Hibban berkata: “Al-Haisham meriwayatkan Ath-Thammat, tidak boleh berhujjah dengannya.” [Al-Maudlu’at 2/572/Cet. Adlwa’ussalaf]

Beliau juga berkata dalam Al-‘Ilalul Mutanahiyah

والحديث غير محفوظ فلا يثبت هذا عن رسول الله صلى الله عليه و سلم في حديث مسند

“Hadits ini tidak Mahfuzh (lemah) dan tidak benar adaya dari (ucapan) rasulullah shallallahu ‘Alaihi Wasallam secara Musnad (tersambung ke Nabi)”.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Al-Manarul Munif

قال الامام أحمد لا يصح هذا الحديث 

Imam Ahmad berkata: “Hadits ini tidak Shahih” [1/103]

Dan Al-Muhaddits Al-Albaniy rahimahullah memberikan kritik terhadap penilaian Imam Al-Baihaqiy yang menilai hadits ini menjadi kuat dengan semua jalur sanadnya, beliau berkata:

شرط التقوية غير متوفر فيها وهو: سلامتها من الضعف الشديد

“Syarat untuk memperkuat hadits ini tidak terpenuhi padanya, yaitu (syarat) selamat dari Dla’fusy Syadid (kelemahan yang berat atau sangat berat).”

Dan kemudian Syaikh Al-Albaniy membeberkan alasan-alasan ilmiyyah atas lemahnya hadits ini seperti yang beliau jelaskan dengan luas dalam kitab Silisilah Ahadits Dla’ifah. (14 bag. 2/738)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam Majmu’ fatawa :

وقد قال حرب الكرماني في مسائله : سئل أحمد بن حنبل عن هذا الحديث : { من وسع على أهله يوم عاشوراء } فلم يره شيئا . وأعلى ما عندهم أثر يروى عن إبراهيم بن محمد بن المنتشر عن أبيه أنه قال : بلغنا { أنه من وسع على أهله يوم عاشوراء وسع الله عليه سائر سنته } قال سفيان بن عيينة جربناه منذ ستين عاما فوجدناه صحيحا وإبراهيم بن محمد كان من أهل الكوفة ولم يذكر ممن سمع هذا ولا عمن بلغه فلعل الذي قال هذا من أهل البدع الذين يبغضون عليا وأصحابه ويريدون أن يقابلوا الرافضة بالكذب : مقابلة الفاسد بالفاسد والبدعة بالبدعة . وأما قول ابن عيينة . فإنه لا حجة فيه فإن الله سبحانه أنعم عليه برزقه وليس في إنعام الله بذلك ما يدل على أن سبب ذلك كان التوسيع يوم عاشوراء وقد وسع الله على من هم أفضل الخلق من المهاجرين والأنصار ولم يكونوا يقصدون أن يوسعوا على أهليهم يوم عاشوراء بخصوصه

Al-Harb Al-Kirmaniy berkata di dalam (kitab) Masa’il-nya: “Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang hadits ini, yaitu : “Siapa saja yang meluaskan atas keluarganya pada hari ‘Asyura“, maka beliau (imam Ahmad) tidak memandangnya sebagai apa pun, (tidak diperhitungkan). Dan riwayat yang paling tinggi di sisi mereka (yang menshahihkan dan menganjurkannya) adalah sebuah Atsar yang diriwayatakan dari Ibrahim bin Muhammad bin Isma;il Al-Muntasyir dari bapakanya, -kemudian ia menyebutkan haditsnya – . Sufyan bin ‘Uyainah berkata : “kami telah mencobanya selama enam puluh tahun maka kami mendapatkannya benar.” sedangkan Ibrahim bin Muhammad merupakan orang yang berasal dari negeri Al-kufah, dan dia tidak menyebutkan dari siapa dia meriwayatkan hadits ini, dan tidak juga dia menyebutkan siapa yang menyampaikannya kepada dirinya, maka besar kemungkinan yang mengatakan (isi) hadits ini adalah Ahli Bid;ah yang membenci Ali radliyallahu ‘anhu dan para shahabatnya dan mereka hendak membalas kaum Rafidlah dengan kedustaan, (dan ini merupakan) pembalasan yang rusak dengan sesuatu yang rusak, dan bid’ah dengan bid’ah. Dan adapun perkataan Ibnu ‘Uyainah maka tidak ada hujjah di dalamnya, sesungguhnya Allah Subhanahu yang telah memberikan rejeki atasnya, dan bukanlah dengan pemberian nikmat dari Allah dengan hal itu menjadi petunjuk dalil atas bahwa sebab yang demikian itu (ia menjadi banyak rejeki) karena memberikan keluasan pada hari ‘Asyura, sesungguhnya Allah telah meluaskan atas orang yang mereka adalah paling afdlal makluk dari kalangan kaum muhajrin dan an-shar, namun mereka tidak menjadi memaksudkan memperluas atas keluarga mereka pada hari ‘Asyura dengan khusus.” (25/313)

Demikian secara ringkas penilaian para Ulama terhadap hadits ini, penulis hanya menukil apa yang penulis mampu, dan di situ ada beberapa pendapat ulama yang tidak saya nukilkan demi mempersingkat, namun apa yang telah ada disini sudah cukup mewakilinya Insyallah.

وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما كثيرا

Bekasi 26 Sep. 2017

Musa Abu ‘Affaf.