Diberi Rejeki Karena Saudaranya Menuntut Ilmu

Diberi Rejeki Karena Saudaranya Menuntut Ilmu

Walau pun bersaudara namun jalan hidup mereka belum tentu sama, dan walau pun terlahir dari rahim yang sama namun jalan orang siapa yang tau. akan tetapi perbedaan kaya dan miskin selalu yang mencolok dalam hal ini, dan kerap menjadi persoalan dalam keluarga. Dan hal itu pun pernah terjadi pada zaman Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dua bersaudara namun memiliki jalan yang berbeda:

عن انس بن مالك قال : كان أخوان على عهد النبي صلى الله عليه و سلم فكان أحدهما يأتي النبي صلى الله عليه و سلم والآخر يحترف فشكى المحترف أخاه إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال لعلك ترزق به

 Dari Anas bin Malik Radliyallahu ‘Anhu beliau berkata: “Pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ada dua orang bersaudara, seorang dari mereka berdua datang (menuntut ilmu) kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan yang seorang lagi sibuk bekerja, maka saudaranya yang bekerja ini mengadukan saudaranya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu Nabi bersabda: “Siapa tau kamu diberikan rejeki dengan sebabnya.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam At-Tirmidzy dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/223/ No. 324/cet. Darul Maiman-Riyadl.)

Abu ‘Isa At-Tirmidzy rahimahullah berkata: “Ini hadits yang Hasan Shahih.”

Imam Al-Hakim berkata : “Hadits ini Shahih di atas Syarat Muslim”

Dan hadits ini mengajarkan kita beberapa hal penting:

1. Bekerja tidak tercela namun adalah kemuliaan, dari itu Nabi shallallahu ‘alaihi Wasallam tidak mempermasalahkan shahabat yang mengadu karena dialah yang bekerja dan tidak seperti saudaranya yang tekun menuntut Ilmu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

2. Menuntut Ilmu adalah keutamaan yang luar biasa, dari itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menyalahkan shahabat yang menuntut ilmu tersebut walau pun dia harus ditopang oleh saudaranya yang bekerja, dan bahkan sampai Nabi menjelaskan bahwa rejeki saudaranya diberikan Allah dengan sebab saudaranya yang penuntut ilmu.

3. Pentingnya tolong menolong dan saling membantu terutama terhadap kerabat dekat terlebih saudara sekandung.

4. Boleh mengadukan persoalan pribadi kepada orang yang dipercaya keshalihan Agamanya dan baik akhlaknya.

5. Ada pesan agar kita tidak bergantung kepada sebab zhahir wabilkhusus dalam urusan rejeki, namun hendaklah bergantung kepada Allah yang menentukan rejeki, dari itu kemudian nabi bersabda ; “bisa jadi kamu diberi rejeki dengan sebabnya” di mana pada awalnya shahabat tersebut mengira saudaranya yang menuntut ilmu menjadi beban rejeki yang dia cari, namun ternyata tak disangka justru dia diberikan rejeki karena saudaranya yang shalih.

6. Dan bisa jadi seorang Bapak diberikan rejeki karena ada anaknya yang menuntut ilmu, dan jika hal itu disadarinya maka akan mendorong dirinya untuk semakin ikhlas dan bertawakkal kepada Allah dalam mencari rejeki.

Demikian semoga bermanfaat:

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما كثيرا 

Musa Abu ‘Affaf.