Belanja Ala Salaf Hindarkan Gila Diskon

Belanja Ala Salaf Hindarkan Gila Diskon

Idealnya adalah tidak membeli jika memang tidak butuh, namun ini tentu berlaku bagi orang yang memang memiliki kemampuan untuk melakukannya.

Berbeda dengan orang yang tidak memiliki kemampuan, apabila dia tidak membeli sesuatu bukan berarti itu ia lakukan karena kesederhanaan namun bisa jadi karena memang tidak punya.

Menuruti semua kemauan diri sendiri tanpa kontrol adalah sumber petaka dalam kehidupan seorang, terlebih apabila kemauan tersebut sampai melanggar batasan-batasan Agama Allah.

Tidak hanya menahan diri dari kemauan yang buruk dan tercela, namun menahan diri – karena khawatir akan jatuh kepada kesalahan – dari kemauan yang bersifat boleh-boleh saja pun bisa menjadi sebuah sifat terpuji dan hal ini biasa disebut dengan Wara’.

إن من السرف أن تأكل كلما اشتهيت

Sesungguhnya termasuk dalam berlebihan kamu makan apa saja setiap kali kamu inginkan. [1]

Adalah Umar bin Khathhab Radliyallahu ‘Anhu adalah sosok teladan untuk kita dalam hal ini, seperti dikisahkan dalam sebuah Atsar (baca: hadits)

عن الأعمش ، عمن حدثه ، قال : مر جابر على عمر بلحم قد اشتراه بدرهم ، قال : فقال له عمر : ما هذا ؟ قال : اشتريته بدرهم ، قال : أكلما اشتهيت شيئا اشتريته ؟ لا تكن من أهل هذه الآية : أذهبتم طيباتكم في حياتكم الدنيا

Dari A’masy dari seorang yang telah memberikannya hadits, ia berkata : “Suatu ketika Jabir melewati Umar (bin Khathhab) membawa daging yang telah ia beli dengan Dirham, lalu Umar bertanya kepadanya: “Apakah ini?” Jabir menjawab : “Aku telah membelinya dengan Dirham, Umar pun berkata: “Apakah setiap kali kamu berkemauan terhadap sesuatu (lalu) kamu membelinya? janganlah kamu menjadi bagian dari orang-orang dalam Ayat ini (maksudnya Ayat 20 Surat al-Ahqaf) : “Kalian telah membiarkan pergi kebaikan-kebaikan kalian di kehidupan dunia.” [2]

Walau pun status riwayat riwayat di atas tidak kuat dijadikan sebagai dasar akan tetapi sifat kesederhanaan dan Wara’nya Umar bin Khathhab sudah sangat begitu masyhur, Imam Ibnu katsir berkata :

  وقد تورع أمير المؤمنين عمر بن الخطاب رضي الله عنه عن كثير من طيبات المآكل والمشارب، وتنزه عنها، ويقول: أخاف أن أكون كالذين قال الله تعالى لهم : أذهبتم طيباتكم في حياتكم الدنيا واستمتع بها 

Dan sungguh Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khathhab Radliyallahu ‘Anhu telah bersikap Wara’ dari banyak makanan dan minuman yang lezat, dan beliau menjauhkan diri darinya, beliau berkata : “Aku takut menjadi seperti orang-orang yang telah Allah sebutkan mereka (pada Ayat) “Kalian telah menghabiskan kebaikan-kebaikan kalian di kehidupan dunia dan kalian telah bersenang-senang dengannya”. [3]

Sifat Wara’ ini perlu ditumbuhkan dan dihadirkan dalam menghadapi kemajuan ekonomi saat ini yang datang membawa berbagai barang jualan yang menggiurkan, agar tidak semua yang kita inginkan lantas harus kita dapatkan. Dan tanpa sifat yang Wara’ dan Qana’ah (merasa sudah cukup) maka dikhawatirkan seorang dapat terjangkit oleh sifat latah membeli dan berkeinginan.

Musa Abu ‘Affaf.

______________________________

[1] Hadits riwayat Ibnu Majah No. 3352 Bab من الإسراف أن تأكل ما اشتهيت Halaman 485 Cet. Darussalam Tahun 1999 M. Riyadl Saudi Arabia. Syaikh al-Albany menilai Hadits ini Maudlu’ (Palsu) dalam Silsilah adl-Adla’ifah 1/ 241.

[2] Hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf No. 25012 Jilid 12 Halaman 410. Cet. Darul Qiblah 2010 . Jeddah Saudi Arabia. Kisah ini juga disebutkan dalam at-Targhib Wattarhib oleh Imam as-Suyuthiy dan dihukumi Munkar (hadits Dla’if) oleh Muhaddits al-Albany dalam Dla’if Targhib Wat Tarhib Jilid 2 Halaman 332-333 Cet. Maktabatul Ma’arif Tahun 2000 M. Riyad Saudi Arabia. (penulis melihatnya dalam versi Pdf.)

[3] Tafsir Ibnu katsir Surat al-Ahqaf Ayat 20 Jilid 4/ 202/ Cet. Muassasah ar-Rayyan.