Anak Bermutu Dimulai Dari Rumahmu

Anak Bermutu Dimulai Dari Rumahmu

Bukan hal yang mudah untuk menjadikan anak bermutu, terlebih di masa sekarang ini. Segala sesuatu disajikan dengan bias, pendidikan di sekolah kadangkala tidak menuntaskan persoalan pendidikan ditengah keluarga. Terlebih lagi keluarga muda yang masih memiliki usia anak pra-sekolah. Sebelum jauh melangkah, setidaknya dari dalam diri keluarga ada yang bisa dilakukan secara maksimal oleh para orangtua. Agar bisa jadi hal tersebut menjadikan setiap orangtua paham benar akan peranannya dalam mendidik anak lebih dini, agar pula tak menjadikan sekolah sebagai bulan-bulanan kesalahan dalam pendidikan. Hal-hal awal yang bisa dilakukan oleh para orangtua dari rumah ialah:

Pertama, Ajarkan anak sesuai dengan porsi usia yang mereka miliki, hal ini penting agar orangtua bisa meminimalisir efek negatif dari hasil didikan terhadap anaknya. Sebab bagi tiap anak butuh waktu untuk menerima apa yang diajarkan oleh orangtuanya, dan bagi orangtua tentu akan membutuhkan banyak alternatif dalam mendidik anaknya untuk dapat lebih baik. Paling penting dalam hal ini ialah jangan paksakan ‘pakaian’ yang dimiliki orangtua untuk dipakaikan kepada anak. Baik dalam arti sebenarnya maupun arti kiasan, tentu hal tersebut menjadi tidak layak dan pantas bukan? Sebab memang mendidik anak membutuhkan tahapan, tidak bisa tergesa-gesa. Bahkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pun mengajarkan kepada kita tahapan dalam menetapkan kewajiban kepada para anak dalam syariat. “Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah untuk shalat ketika mereka berumur sepuluh tahun serta pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud dan Al Hakim)

Kedua, pupuk kesabaran berlapis-lapis. Ingat, bahwasanya tema mendidik anak tak selesai hingga anak tersebut menjadi dewasa, bahkan ketika anak sudah menikah pun, orangtua masih punya tugas mseki tidak banyak yakni menjadikan anak yang telah menjadi orangtua tersebut pandai untuk mendidik anak mereka. Dengan kata lain orangtua masih punya bagian untuk turun tangan mendidik cucu mereka. Jika seandainya kesabaran tak dimiliki tentu umpatan dan caci akan menghiasi proses pendidikan. Sehingga anak tidak dibesarkan dengan pujian yang membesarkan jiwanya tapi terdidik dengan cacian yang mengkerdilkan jiwa mereka. Jika hal tersebut terjadi maka musibahlah yang akan ditemui.

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha : 132)

Ketiga, jangan pernah bosan untuk belajar. Perlu diketahui bersama bahwa matangnya pola pikir akan mempengaruhi baiknya pola pengasuhan. Dengan demikian semakin banyak belajar maka akan semakin mudah orangtua untuk memetakan potensi keunikan yang tentunya dimiliki tiap anak. Terlebih jika anak yang diinginkan dalam jumlah yang banyak, semakin belajar akan semakin mudah mengatur pola pengasuhan lebih baik lagi. Oleh karena itu bagi para orangtua hendaknya mereka luangkan waktu untuk setidaknya membaca atau menggali banyak informasi dari mereka yang ahli dalam pendidikan anak, sebab dengan banyaknya membaca terlebih lagi dengan berbagi pada orangtua lainnya akan menjadikan mental pengasuhan dan strategi pendidikan memiliki ragam metodologi.

Keempat, jangan segan meminta bimbingan orangtua. Hal ini sangat penting sebab mereka dengan sedikit atau banyaknya hal yang tidak kita sukai selama ini punya andil dalam membentuk kepribadian kita hari ini. Dengan adanya bimbingan orangtua bukan sekedar arahan yang bisa kita bicarakan dengan mereka tapi hal lain yang lebih penting ialah bicarakan soal strategi dan bentuklah sinergi pola pengasuhan secara bersama. Ingat, acapkali anak menceritakan ketidaksukaannya pada orangtua justru kepada nenek dan kakek mereka. Seandainya hal tersebut bisa dijadikan akses bagi orangtua untuk menanamkan kebaikan dan adanya proses sinergi tadi kelak nenek dan kakek bisa diarahkan justru untuk turut serta memberikan opini positif kepada anak. Hal ini disebabkan telah adanya komunikasi yang terjalin antara kita dengan orangtua. Jangan pernah menoloak, sombong apalagi congkak apakah itu kepada orangtua maupun mertua kita sendiri.

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang penghuni surga? Setiap orang yang lemah lagi dianggap hina, bila ia bersumpah atas nama Allah maka Allah akan mengabulkannya. Maukah kalian aku kabarkan tentang penghuni neraka? Setiap orang yang congkak, dungu lagi sombong.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kelima sekaligus terakhir dan tak kalah pentingnya ialah pilih lingkungan bergaul anak kita. Sebab tak jarang energi negatif yang dimiliki oleh seorang anak justru datang dari luar rumah. “Sesungguhnya perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Seseorang penjual minyak wangi bisa memberimu atau kamu membeli darinya atau kamu mendapat bau wangi darinya. Dan seorang pandai besi bisa membuat pakaianmu terbakar, atau kamu mendapat bau yang tidak sedap.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Sehingga menurut George Herbert Mead (Sunarto, 2004:24) membagi 3 jenjang dalam proses sosialisasi dan tumbuh kembang seorang anak, dua diantaranya yaitu:

  1. Play Stage, anak mulai belajar mengambil peran (role taking) atau menirukan peran orang yang berada di sekitarnya, namun belum memahami sepenuhnya isi peran-peran yang ditirukan.
  2. Game Stage, anak tidak hanya mengetahui peran yang harus dijalankannya, tetapi telah pula mengetahui peran yang harus dijalankan oleh orang lain dengan siapa ia berinteraksi.

Bukan hal yang mudah, mempersiapkan anak untuk lingkungan dari rumah karena ini menyangkut tentang keseluruhan proses kita mendidik anak. Apa yang selama ini kita katakan padanya tentang nilai-nilai kehidupan juga sangat memengaruhi anak agar tetap setia pada yang benar, meski ia berada di lingkungan yang salah. Cara kita menyampaikan pun jangan seperti sedang menggurui. Sampaikan nasehat kita melalui obrolan yang santai, lalu beri contoh bagaimana kita dulu atau mungkin orang yang kita kenal dalam mengambil keputusan, dan apa resikonya atas keputusan yang diambil tersebut. Anak pun diberi kesempatan untuk terbiasa mengambil keputusan dan merasakan akibat dari keputusan tersebut. Jadi, kelak ia akan menimbang resiko sebelum melakukan sesuatu. Hal ini penting karena kita tidak bisa selalu ada bagi anak di sepanjang hidupnya. (Setyawan, 2013: 27-28)

Demikianlah lima hal dan tentunya hal tersebut masih dapat didiskusikan dalam kesempatan dan tempat yang lebih luas nantinya. Namun, secara garis besar untuk menjadikan anak bermutu ialah biarkan diri anda memegang peran-peran usia krusial tumbuh kembang anak. Jika kita sudah mampu menguasai dan menjalankan strategi pendidikan anak dengan baik melalui keyakinan atas kemampuan yang kita miliki, maka Insya Allah predikat anak bermutu sudah tak perlu ragu.

Semoga apa yang dituliskan disini bermanfaat bagi kita semua, “Ya Rabb kami, berilah untuk kami dari istri dan anak-anak kami penyejuk pandangan mata dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqan : 74).

Wallahul Muwaffiq.

Oleh: Rizki Abu Haniina

Gambar dari:

http://gb003.pelapak.com/uploads/2013/08/20/261364-5-mainan-playground-anak-jungkat-jungkit.jpg

One Comment

  1. Setuju sekali dengan artikel ini. Apalagi anak mendapatkan pelajaran pertamanya di rumah, tepatnya oleh orang tuanya. Jadi, bangun pendidikan yang berkualitas di rumah, dan ajarkan pada hal-hal yang positif. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>