Amal Ibadah Antara Diterima Atau Ditolak

Amal Ibadah Antara Diterima Atau Ditolak

Jika anak Anda diterima disebuah kampus ternama, atau Anda diterima disebuah perusahaan dengan gaji yang tinggi, atau di antara Anda semua, ada yang diterima lamarannya oleh seorang wanita yang ia dambakan, semua kebahagiaan itu tentu akan sangat menyenangkan perasaan Anda dan bahkan barangkali ada di antara Anda yang akan merasa puas dan sukses dengan semua capaian itu.

Berpaling dari itu, ingin sedikit mengajukan tanya kepada semua yang membaca tulisan ini, yaitu; bagaimana dengan amal ibadah kita? Apakah dan akankah Allah menerimanya?

Pertanyaan ini akan sangat mengusik nyenyak tidur kita, atau bisa jadi membuat resah jiwa kita, Sebulan lamanya berpuasa, bertahun-tahun telah mendirikan shalat dan melakukan amal kebaikan lainnya, namun sejauh itu sampai saat ini tidak ada satu orang pun dari kita yang berani menjamin untuk dirinya bahwa Allah menerima semua ibadahnya.

Ini adalah hal yang begitu sangat meresahkan hati orang-orang yang beriman, sebab pada dasarnya amal ibadah seorang hamba hanya akan diterimaNya dari hamba-hamba yang bertaqwa. Allah berfirman:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertaqwa.” (QS: Al-Maidah 27)

Akan terbayang dalam benak kita, apakah selama ini saya puasa, shalat, sedekah, dan menuntut ilmu di atas ketaqwaan? Ataukah tidak. betapa ruginya diri kita seandainya semua itu ternyata kelak pada hari pembalasan tercatat sebagai amalan yang tidak di atas ketaqwaan.

Urusan ini begitu berarti, sangat berarti, dicerminkan oleh seorang Salaf yang dikenal dengan sebutan Abu Darda’,  Imam Ibnu katsir rahimahullah dalam tafsirnya menghadirkan ucapan beliau yang berbunyi:

لأن أستيقن أن الله قد تقبل مني صلاة واحدة أحب إليّ من الدنيا وما فيها، إن الله يقول:  إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sungguh aku bisa menjadi yakin Allah menerima satu shalat dariku, lebih aku sukai dari pada dunia dan apa-apa yang ada di dalamnya, sesungguhnya Allah berfirman: (yang artinya) “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertaqwa.”

Akan menjadi perbandingan yang tak seimbang, diterima dalam urusan duniawi sementara urusan ukhrawi tak menentu, walhal dunia ini telah kita ketahui bersama tidak abadi.

Nabi Ibrahim dan putranya yang bernama Ismail, dalam Al-Qur’an disebutkan ketika membangun pondasi Ka’bah namun setelahnya tetap berdoa kepada Allah agar amal yang beliau berdua lakukan diterima, Allah berfirman:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya: “Dan ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar ka’bah dan juga Ismail, (mereka berdoa) Rabb kami, terimalah dari kami sesungguhnya engkau Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui.” (QS: Al-Baqarah 127)

Ini kembali menegaskan betapa pentingnya urusan ini, yaitu persoalan apakah ibadah kita diterima ataukah tidak. dan kita lebih butuh tentunya untuk berdoa dari pada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, Alaihimassalam.

Namun kita tidak boleh merasa pupus dan tenggelam dalam rasa ketidak pastian yang dapat membawa diri kita ke jurang putus asa yang telah diharamkan Allah. Hendaknya kita selalu berbaik sangka dan memperbesar rasa harap kita kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengasihi dan lagi Maha mengampuni.

 Selamat Idul Fithri 1438 H. Semoga Allah menerima ibadah puasa kita dan ibadah lainnya, Amiin.