ِApa Di Balik Wafatnya Ulama ?

ِApa Di Balik Wafatnya Ulama ?

Wafatnya ulama adalah musibah yang tidak biasa, sebab Allah ‘Azza Wajalla mencabut Ilmu Agama dengan cara menggenggam ulama. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

 إن من أشراط الساعة أن يرفع العلم ويثبت الجهل

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat adalah ilmu (Agama) diangkat dan tetapnya kebodohan” (HR: Bukhari Muslim)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda:

 إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من الناس ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يترك عالما اتخذ الناس رءوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari manusia, namun mencabut ilmu itu dengan mencabut para ulama, sehingga apabila sampai tidak menyisakan seorang ulama pun maka orang-orang menjadikan pemimpin yang jahil dan ketika mereka ditanya mereka berfatwa dengan tanpa ilmu maka mereka telah sesat dan menyesatkan.” (HR: Bukhari Muslim)

Ali bin Abi Thalib Radliyallahu ‘Anhu berkata:

يموت العلم بموت حملته

“Kematian Ilmu (terjadi) dengan kematian para pembawanya” [[ Ibnu Abdil Barr dalam Jami’u Bayanil Ilmi  (1/115) dan Khathib al-Baghdady dalam al-Faqih wal Mutafaqqih (1/5049) dan beliau menilainya ‘Hasan’.]] [1]

Wafatnya seorang Ulama juga adalah nasehat agar kaum muslimin menjadi lebih peduli dan memperhatikan Ilmu Agama, dan hendaknya segera menuntutnya dari para Ulama sebelum mereka di angkat oleh Allah ‘Azza Wajalla.

Disebutkan bahwa Abdullah bin Mas’ud Radliyallahu ‘Anhu pernah berkata:

عليكم بالعلم قبل أن يرفع ورفعه هلاك العلماء

“Tuntutlah Ilmu sebelum ia diangat dan (bentuk) diangkatnya adalah kematian Ulama.” (ad-Darimy 1/54).

 Al-Hasan al-Bashry Rahimahullah berkata :

 كانوا يقولون موت العالم ثلمة في الإسلام لا يسدها شيء ما اختلف الليل والنهار

 “Mereka (Salafush Shalih) berkata: “Kematian seorang yang Alim adalah (laksana) lubang di dalam Islam, apa pun tidak dapat menutupnya sepanjang pertukaran malam dan siang.”

Ucapan ini disebutkan oleh Imam Ahmad dalam kitab az-Zuhd, Imam ad-Darimy dalam as-Sunan, dan oleh Ibnu Abdil Barr dalam kitab al-Ilmu dari al-Hasan al-Bashriy.  Dan kesinambungan riwayatnya dinilai Shahih.[2]

Selain dari al-Hasan al-Bashry, ucapan ini juga terdapat dalam beberapa riwayat hadits yang kesinambungan riwayatnya sampai kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (Marfu’), akan tetapi semua jalur riwayat tersebut lemah dan bahkan ada yang dinilai sebagai riwayat hadits yang palsu.

Ini sebagaimana yang telah disebutkan al-‘Allamah Nashiruddin al-Albany Rahimahullah dalam kitab Silsilah al-Ahaditsudl Dla’ifah wal Maudlu’ah hadits No. 4668/10/ 199 dan hadits No. 4838/10/394.

Semoga bermanfaat

Musa Abu ‘Affaf, BA.

—————————————-

[1] Kami kutip dari : al-alukah.net

[2] penilaian Shahih atas Atsar Al-Hasan al-Bashry ini kami kutip dari sini : Klik